PERADABAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejarah adalah peristiwa dimasa lampau. Tujuan sejarah adalah agar orang yang hidup di masa sekarang dapat mengetahui peristiwa dimasa lampau dan menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran untuk masa yang akan datang.
Islam sebagai agama samawi yang diturunkan oleh Allah. Islam yang di bawa Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat bagi seluruh umat manusia. Agama Islam memiliki karakteristik tersendiri. dari ajaran yang disampaikan Islam tidak menggunakan kekerasan atau pemakasaan untuk mengikuti ajaran Islam.
Ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad tidak terputus sampai pada masanya saja. Dimasa khulafaurasydin dan masa daulah Islamiyah ajaran terus disebarkan Islam yang di delegasikan untuk mengembangan misi Islam.
Dalam makalah ini kami akan membahas pola perkembangan dakwah pada masa daulah Bani Umayyah.

B. Rumusan Masalah
     1. Bagaimana asal mulanya berdirinya Dinasti Bani Umayyah?
     2. Bagaimana peradaban Islam pada masa Dinasti Umayyah?
     3. Apa saja factor penyebab kemunduran Dinasti Umayyah?

C. Tujuan
1.    Untuk mengetahui bagaimana asal mulanya berdirinya Dinasti Bani Umayyah.
2.    Untuk mengetahui bagaimana peradaban Islam pada masa Dinasti Umayyah.
3.    Untuk mengetahui apa saja factor penyebab kemunduran Dinasti Umayyah.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Awal Mula Berdirinya Dinasti Umayyah
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Pusat pemerintahan yang semula berada di Madinah, dipindahkan oleh Mu’awiyah ke Damaskus. Selama masa itu, bani Umayyah dipimpin oleh Khalifah sebagai berikut: Mu’awiyah bin Abi Sufyan (661-680 M), Yazid I (680-683 M), Mu’awiyah II (683-684 M), Marwan bin Hakam (684-685 M), Abdul Malik (685-705 M), Al Walid I (705-715 M), Umar bin Abdul Aziz (711-720 M), Yazid II (720-724 M), Hisyam (724-743 M), Al Walid II (743-744 M), Yazid III (744 M), dan  Marwan II (744-750 M).
Khalifah-khalifah besar pada masa kekuasaan Bani Umayyh adalah: Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abdul Malik bin Marwan, Al Walid bin Abdil Malik, Umar Bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik.
Berakhirnya  kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib mengakibatkan lahirnya kekuasaan yang berpola Dinasti atau kerajaan. Jatuhnya Ali bin Abi Thalib dan naiknya Mu’awiyah juga disebabkan pihak khawarij (kelompok yang membangkan dari Ali) membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib, meskipun kemudian tampuk kekuasaan dipegang oleh putranya Hasan, namun tanpa dukungan yang kuat dan kondisi politik yang kacau akhirnya kepemimpinannya pun hanya bertahan sampai beberapa bulan. Pada akhirnya Hasan menyerahkan kepemimpanannnya kepada Mu’awiyah, namun dengan perjanjian bahwa pemilihan kepemimpinan sesudahnya adalah diserahkan kepada Ummat Islam. Perjanjian tersebut dibuat pada tahun 661 M/ 41 H dan dikenal dengan jama’ah karena perjanjian ini mempersatukan Umat Islam menjadi satu kepemimpinan, namun secara tidak langsung mengubah pola pemerintahan menjadi kerajaan.  
Nama Daulah Bani Umayyah berasal dari nama Umayyah ibn Abdi Syams ibn Abdi Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin kabilah Quraisy di Zaman jahiliyah.[1] Bani Umayyah adalah musuh – musuh paling keras terhadapIislam. Bani Umayyah masuk Islam setelah mereka tidak menemukan jalan lain, ketika Nabi Muhammad SAW bersama beribu-ribu pengikutnya yang benar-benar percaya kepada Kerasuluan dan kepemimpinya kembali ke kota Mekkah. Dengan demikian jelaslah bahwa Bani Umayyah adalah orang terakhir yang masuk Islam dimasa Rasullulah.

Tetapi setelah masuk islam, mereka dengan segera memperlihatkan semangat kepahlawanan yang jarang ada tandingannya, seakan-akan ingin mengimbangi keterlambatan mereka dengan berbuat jasa-jasa besar terhadap agama Islam dan agar orang-orang lupa terhadap sikap perlawanan mereka terhadap agama Islam.

Dinasti Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Muawiyah disamping sebagai pendiri daulah Bani Umayyah juga sekaligus menjadi Khalifah pertama. Ia memindahkan ibu kota kekuasaan Islam dari Kufah ke Damaskus.
Muawiyah dipandang sebagai pembangun dinasti yang oleh sebagian besar sejarawan awalnya dipandang negatif. Keberhasilannya memperoleh legalitas atas kekuasaannya dalam perang saudara di Siffin dicapai melalui cara yang curang. Lebih dari itu, Muawiyah juga dituduh sebagai pengkhianat prinsip-prinsip demokrasi yang diajarkan Islam, karena dialah yang mula-mula mengubah pimpinan negara dari seorang yang dipilih oleh rakyat menjadi kekuasaan raja yang diwariskan turun-temurun (monarchy heredity).
Diatas segala-galanya jika dilihat dari sikap dan prestasi politiknya yang menajubkan, sesungguhnya Muawiyah adalah seorang pribadi yang sempurna dan pimpinan besar yang berbakat. Di dalam dirinya terkumpul sifat-sifat seorang penguasa, politikus, dan administrator.
Muawiyah berhasil mendirikan Dinasti Umayyah bukan hanya dikarenakan kemenangan diplomasi di Siffin dan terbunuhnya Khalifah Ali. Melainkan sejak semula gubernur Suriah itu memiliki “basis rasional” yang solid bagi landasan pembangunan politiknya dimasa depan.
Pertama, adalah berupa dukungan yang kuat dari rakyat Suriah dan dari keluarga Bani Umayyah sendiri. Penduduk Suriah yang lama diperintah oleh Muawiyah mempunyai mempunyai pasukan yang kokoh, terlatih, dan disiplin di garis depan dalam peperangan melawan Romawi. Mereka Bersama-sama  dengan bangsawan kaya Mekah dari keturunan Umayyah berada sepenuhnya di belakang Muawiyah dan memasoknya dengan sumber-sumber kekuatan yang tidak ada habisnya, baik moral, tenaga manusia, maupun kekayaan. Negeri Suriah sendiri terkenal makmur dan menyimpan sumber alam yang berlimpah. Ditambah lagi bumi Mesir yang berhasil dirampas, maka sumber-sumber kemakmuran dan suplai bertambah bagi Muawiyah.
Kedua, sebagai seorang administrator, Muawiyah sangat bijaksana dalam menempatkan para pembantunya pada jabatan-jabatan penting. Tiga orang patutlah mendapat perhatian khusus, yaitu ‘Amr bin Ash, Mugirah bin Syu’bah dan Ziyad bin Abihi. Ketiga pembantu Muawiyah merupakan politikus yang sangatmengagumkan dikalangan muslim Arab. Akses mereka sangat kuat dalam membina perpolitikan Muawiyah.
Ketiga, Muawiyah memiliki kemampuan menonjol sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkat “hilm”, sifat tertinggi yang dimiliki oleh para pembesar Mekah zaman dahulu. Seorang manusia hilm seperti Muawiyah dapat menguasai diri secara mutlak dan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan meskipun ada tekanan dan intimidasi.
Gambaran dari sifat mulia tersebut dalam diri Muawiyah setidak-tidaknya tampak dalam keputusannya yang berani memaklumkan jabatan Khalifah secara turun-temurun. Situasi ketika Muawiyah naik ke kursi kekhalifahan mengundang banyak kesulitan. Anarkisme tidak dapat lagi dikendalikan oleh ikatan agama dan moral, sehingga hilanglah persatuan umat. Persekutuan yang dijalin secara efektif melalui dasar keagamaan sejak Khalifah Abu Bakar tidak dapat dielakkan dirusak oleh peristiwa pembunuhan atas diri Khalifah Utsman dan perang saudara sesama muslim di masa pemerintahan Ali.
Dengan menegakkan wibawa pemerintahan serta menjamin integritas kekuasaan di masa-masa yang akan datang, Muawiyah dengan tegas menyelenggarakan suksesi yang damai, dengan pembantaian putranya, Yazid, beberapa tahun sebelum Khalifah meninggal dunia.
Munculnya Dinasti Umayyah memberikan babak baru dalam kemajuan peradaban Islam, hal itu dibuktikan dengan sumbangan-sumbangannya dalam perluasan wilayah, kemajuan pendidikan, kebudayaan dan lain sebagainya. Dakwah Islam pada masa Bani Umayyah semakin maju dan berkembang pasat, terutama pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Usahanya dalam proses penyebaran Islam dilakukan dengan mengirim para Mubaligh ke India, Turki, dan Barbar di Afrika Utara dan menyetop usaha pengepungan Konstaninopel dan para tentara diperintahkan untuk kembali ke markas masing-masing. Disamping itu, ia juga mengirim selembaran tentang Islam dan ilmu pengetahuan kepada para Gubernur. Dan yang lebih penting usahanya dalan system pemerintahan ialah mengembalikan semua system kepada ajaran Islam dan sebelum menjadi pemimpin ia pernah menawarkan kepada rakyat untuk menentukan siapa yang berhak menjadi pemimpin.

Terhadap pihak yang menentang Bani Umayyah, seperti golongan Khawarij dan Syi’ah, Umar bersikap lunak. Mereka tidak diperangi, tetapi diajak berdikusi dan membina saling pengertian ia melancarkan dakwah Islam dengan cara bijaksana dan persuatif hingga penduduk yang belum beragama Islam masuk ke Islam, juga melindungi penduduk Mesir.[2]







B.     Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Umayyah
a.       Membuka Wilayah Dakwah Baru
          Pada periode ini kawasan Islam semakin meluas, ajaran Islam semarak dan menyelinap masuk ke hati rakyat. Islam sudah eksis di negeri Syam, Mesir, Afrika Utara, Kepulauan Laut Tengah, Andalusia, dan negeri-negeri lainnya. Perluasan dakwah dilakukan di tiga kawasan, yaitu:
1.      Asia Kecil dan Negeri Romawi
                        Kaum Muslimin bertolak dari ibu kota Negara “Dimasyq” atau Damaskus menuju kepulauan yang terletak di Laut Tengah dalam rangka menyebarkan Islam dan mengamankan daerah-daerah tapal batas negeri Islam. Kaum Muslimin menggunakan armada laut yang cukup besar. Kapal yang dipakai sebanyak 1.700 kapal. Dalam ekspedisi ini kaum Muslimin banyak menguasai kepulauan-kepulauan di kawasan ini. Kemudian mereka maju menuju Konstantinopel. Mereka mengepung kota ini selama tujuh tahun tetapi belum berhasil di taklukkan.[3]
2.      Kawasan Afrika Utara dan Andalusia
                        Uqbah bin Nafi’ r.aa melanjutkan aktivitas dakwahnya pada masa Utsman bin Affan sampai mampu menundukkan Tharabulus Barat. Kemudian beliau bergerak ke Selatan  sampai ke negeri Sudan. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan hingga berhasil mendirikan Qoirowan tahun 50 H, dan kota ini dijadikan sebagai markas utama kaum Muslimin.[4] Kemudian Beliau melanjutkan kegiatannyahingga menembus pantai Samudera Atlantik dan disana Beliau Syahid.
                        Kemudian Musa bin Nushair membuka kota Tonjah. Berikutnya tunduk pula kota Sabtah yang terletak di pantai Afrika. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, dakwah Islam dan bahasa Arab tersosisalisasi diantara penduduk Barbar. Pada tahun 100 H, sepuluh ulama tabi’in ditugaskan oleh Umar bin Abdul Aziz untuk berdakwah di kawasan ini. Mereka menyebar diseluruh wilayah dan mereka diterima dengan sangat baik oleh masyarakat kawasan ini dan mayoritas masyarakat akhirnya memeluk Islam.
                        Musa bin Nushair melanjutkan perjalanan menuju negeri Andalusia. Hasilnya Cordova, Granada, dan Thulaithilah menjadi markas kaum Muslimin. Di sini mereka membangun budaya ilmiah, pemikiran dan arsitektur selama lebih dari delapan abad.
                        Kaum Muslimin juga melanjutkan perjalanan sampai menembus Perancis (dekat dengan kota Paris) di bawah komando Abdurrahman al Ghafiqi tahun 112 H. Di sinilah pertempuran Bilath asy Syuhada’ terjadi (114 H), dan disini Abdurrahman al Ghafiqi mati syahid. Pasukannya akhirnya mundur setelah pertempuran panjang.[5]
3.      Kawasan Sind dan Negeri di Seberang Sungai
Gerakan dakwah di kawasan ini menempuh dua strategi, yaitu:
·         Di kawasan Timur Laut, yaitu negeri-negeri yang terletak di seberang sungai, atau negeri-negeri yang terletak diantara dua sungai, jihun dan Sihun. Kaum Muslimin [6]melanjutkan perjuangannya di bawah komando Ubaid bin Ziyad bin Ubaih dan Qutabaih bin Muslim dan lainnya. Qutabaih berhasil memasuki kawasan ini sampai hamper menguasai daerah-daerah yang terletak di antara dua sungai tersebut. Di sini mereka menghancurkan berhala dan membakarnya. Banyak penduduk yang masuk Islam di tangannya. Qutaibah juga memasuki kawasan Kasghar di Cina.
·         Di kawasan Tenggara, di daerah Sind, Muhammad bin al Qasim ats Tsaqafi berangkat menuju kawasan ini dengan menggunakan jalan darat dan laut. Beliau harus menghadapi Raja Daher dan akhirnya beliau memenangkan pertarungan ini. Beliau melanjutkan perjalanan menuju Kashmir di Utara Sind.[7] Gerakan perluasan negeri juga disertai dengan kebangkitan pemikiran dan social. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah merata di seluruh pelosok negeri, baik di kota maupun di desa. Para pakar fikih, hadis, dan sejarah aktif beraktifitas di segala ini. Bahasa Arab adalah bahasa resmi dan menjadi “lingua franca” di mayoritas negeri Muslim. selain Orang Arab masuk Islam dengan berbondong-bondong, dan mereka belajar bahasa Arab untuk kepentingan agama dan dunia mereka. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak di antara penduduk negeri menjadi ulama terkemuka dan memiliki konstribusi besar dalam memperkaya khazanah pemikiran Islam.
Dakwah sektor ini melemah seiring dengan melemahnya daulah bani Umayyah di penghujung masa pemerintahannya.

b.      Dakwah Di Bidang Kajian Dan Penulisan Ilmiah
                        Gerakan ilmiah pada masa Dinasti Umayyah sangat gencar dan dapat dianggap sebagai tonggak ilmu-ilmu Keislaman buat masa berikutnya. Apabila kita melihat rangkaian riwayat Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ulama yang hidup pada masa daulah Abbasiyyah, kita akan menemukan bahwa mereka mendapatkan sumber riwayat dari orang yang hidup sebelum mereka, yaitu Ulama yang hidup pada masa daulah bani Umayyah atau pada masa Khulafaur Rasyidin.
                        Gerakan ilmiah ini selalu bersamaan dengan gerakan futuhat Islamiyyah. Setiap kali pasukan menundukkan negeri baru, selalu ditindaklanjuti oleh para Ulama dengan mengajarkan fikih, syariah, hadis, tafsir. mereka mengajarkan Islam dan menjelaskan kepada penduduk problematika yang dihadapi mereka. Para Ulama menyebar kesegala pelosok negeri. Ada yang berangkat ke Mesir, Kuffah, Syam, da n ada yang ke Afrika.
                        Menyebarnya Ulama ke berbagai negeri membuahkan gerakan ilmiah di negeri-negeri tersebut. Berdirilah kelompok-kelompok kajian dan halaqah-halaqah ilmu. Di majelis ilmu tersebut pembauran intensif terjadi. Perbedaan bangsa dilebur oleh kepentingan dakwah. Dalam halaqah ilmiah ilmu seluas-luasnya. Banyaknya ulama yang muncul dari selain Arab membuktikan bahwa Islam bukan milik Arab, dan Islam tidak di benci oleh negara yang di duduki. Andaikan Islam datang dengan menebar kebencian, kita pasti tidak akan menemukan Ulama-ulama Islam dari selain Arab yang ikhlas dan berkhidmat untuk Agama Islam. Peletak dasar Ilmu Nahu, Sibawaih, Farisi, dan Az Zajjaj adalah non-Arab. Begitu juga dalam disiplin ilmu yang lain.
                        Pakar sejarah menyebutkan tentang banyaknya mawali (istilah buat budak yang telah dimerdekakan) yang memiliki kontribusi besar dalam bidang ilmu pengetahuan pada masa Umayyah. Di Madinah ada Sulaiman bin Bassar, terkenal sebagai orang orang yang paling alim dan faqih. Bapaknya adalah Maulana dari Maimunah, istri Rasulullah. Ada Nafi’ Maulana Ibnu Umar yang meriwayatkan mayoritas hadis dari Ibnu Umar. Nama lain adalah Rabi’ah ar Ra’y. Di Mekkah ada Mujahid bin Jubair, Ikrimah Maula Ibnu Abbas, Atha’ bin Rabah Maula Bani Fihir. Di Kufah, ada Sa’id bin Jubair, dan Bashrah ada Hasan bin Bassar, Muhammad bin Sirin dan Hasan al Bahsri. Di Syam ada Makhul bin Abdullah. Di Mesir ada Yazid bin Habib.

C.     Para Khalifah Dinasti Umayyah
Masa kekuasaan Dinasti Umayyah hampir satu Abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 orang Khalifah. Diantara mereka ada pemimpin-pemimpin besar yang berjasa diberbagai bidang sesuai dengan kehendak zamannya, ada pula khalifah yang tidak patut dan lemah. Adapun urutan Khalifah Umayyah adalah sebagai berikut.
1.   Mu’awiyah 41-60 H
Mu’awiyah dilahirkan kira-kira 15 tahun sebelum Hijrah. Masa pemerintahan Mu’awiyah adalah yang paling cemerlang diantara masa-masa Khalifah seluruhnya, dimana keamanan dalam negeri begitu baiknya, dan segala anasir-anasir yang bersikap permusuhan terhadap Mu’awiyah telah dapat dibasmi, berkat moral Mu’awiyah yang tinggi, ataupun karena hadiah-hadiah, dan pedangnya yang tajam. Masa pemerintahannya adalah masa kemakmuran dan kekayaan yang berlimpah-limpah. Begitu pula dengan hubungan luar negeri, kaum muslimin telah mencapai kemenangan yang gemilang.
2.   Yazid 60-64 H
Namanya Yazid ibnu Mu’awiyah. Masa pemerintahannya hanya berlangsung kira-kira tiga tahun saja. Ia meninggal dalam usia muda. Ia tidak sempat merasakan kenikmatan sebagai Khali-fali barang seharipun. Begitu ia naik takhta, dihadapannya telah berkecamuk bermacam-macam peristiwa yang merupakan penyakit-penyakit berat bagi negaranya. Ia mulai mengobati penyakit-penyakit itu. Tetapi celakanya, obat yang dipakainya itu malah lebih berbahaya daripada penyakit-penyakit itu sendiri.
3.   Mu’awiyah II 64 H
Mu’awiyah II ialah seorang pemuda yang lemah. Masa jabatannya tidak lebih dari 40 hari. Kemudian ia mengundurkan diri karena sakit. Dan selanjutnya ia mengurung dirinya di rumah, sampai ia meninggal 3 bulan kemudian.
4.   Marwan Ibnul Hakam 64-65 H
Marwan adalah seorang yang bijaksana, berpikir tajam, fasih berbicara, dan berani. Ia ahli dalam pembacaan Al Qur’an. Dan banyak meriwayatkan hadis-hadis dari dari para sahabat Rasulullah yang terkemuka, terutama dari Umar Ibnul Khattab dan Usman Ibnu ‘Affan. Ia juga telah berjasa dalam menerbitkan alat-alat takaran dan timbangan.
5.   Abdul Malik Ibnu Marwan 65-68 H
Abdul Malik ini dipandang sebagai pendiri yang kedua bagi Daulah Umawiyah. Ketika diangkat menjadi Khalifah, Alam Islami sedang berada dalam keadaan terpecah belah. Ibnu Zubair di Hijaz telah memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah. Kaum syi’ah mengadakan pemberontakan. Dan kaum Khawarij membangkang pula. Abdul malik telah berhasil mengembalikan seluruh wilayah taat kepada kekuasaannya.
6.   Al Walid Ibnu Abdil Malik 89-96 H
Al Walid dilahirkan pada tahun 50 H. Ia mempelajari Kebudayaan Islam. Masa pemerintahan Al Walid pada umumnya dapat disebut masa kemakmuran, keamanan dan ketenteraman. Dengan adanya kekayaan dan kesatuan yang bulat, terutama karena keteguhaniman Al Walid, maka alam Islami dapat bertambah luas sampai meliputi Andalusia dibarat, dan Sind di timur, dan daerah-daerah lainnya.
7.   Sulaiman Ibnu ‘Abdil Malk 92-99 H
Sulaiman ibnu Abdil Malik dilahirkan pada tahun 54 H. Ia dilantik menjadi Khalifah setelah Al Walid meninggal. Sulaiman adalah salah seorang dari Khalifah-khalifah Bani Umaiyah yang terbaik. Ia berbicara fasih dan lancar, sangat mengutamakan keadilan, dan suka  pergi berperang. Ia telah memulai masa pemerintahannya dengan menggerakkan rakyat untuk beramai-ramai melaksanakan sembahyang pada waktunya. Dan diakhir masa pemerintahannya itu dengan menunjuk Umar ibnu Abdil Aziz menjadi Khalifah sesudahnya.
8.   Umar Ibnu Abdil Aziz 99-101 H
Umar ibnu Abdil Aziz dilahirkan di kota Hulwan. Masa pemerintahannya sangat pendek, namun ia menampakkan suatu masa yang berdiri sendiri, mempunyai ciri-ciri sendiri dan mengandung falsafah Islam yang murni, yang tidak terpengaruh oleh aliran-aliran dan peraturan-peraturan Bani Umaiyah yang disesali orang.
9.  Yazid Ibnu Abdil Malik 101-105 H
Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa pemerintahan Yazid antara lain ialah pemberontakan yang dilakukan oleh Yazid ibnul Muhallab. Antara Yazid ibnul Muhallab dan Yazid ibnu Abdil Malik ada permusuhan yang tajam. Yazid ibnuMuhallab berpihak kepada Sulaiman ibnu Abdil Malik dalam menjatuhkan dan menyiksa keluarga Al-Hajjaj. Sedangkan Yazid ibnu Abdil Malik mempunyai hubungan kekeluargaan dengan keluarga Al Hajjaj.
10.  Hisyam Ibnu Abdil Malik 105-125
Dimasa pemerintahan Khalifah Hisyam, Daulah Umawiyah telah menjurus kejurang kelemahannya, karena timbulnya faham kesukuan antara bangsa Arab Utara dan Arab Selatan, lebih-lebih di Khurasan. Didaerah-daerah lainpun timbul pula pemberontakan-pemberontakan yang disebabkan rasa kesukuan dan tindak tanduk yang tidak bijak dari para gubernur. Dan boleh jadi pekerti Hisyam sendiri yang begitu ingin menjaga harta,  dan amat teliti mengeluarkan uang, serta sifat lunak dan penyantunnya itu, juga merupakan suatu faktor yang turut membantu berlangsungnya kegoncangan dan pemberontakan itu terus-menerus.
11.  Al Walid Ibnu Yazid 125-125 H
Al-Walid dilahirkan pada tahun 90 H. Al Walid moralnya tidak begitu tinggi, dia mempunyai sifat kegila-gilaan yaitu sifat yang diwarisinya dari ayahnya. Meskipun ia banyak menunjukkan perangai yang negatif tetapi didalam pemerintahannya ia juga mempunyai sumbangan tidak yang kecil artinya kepada pemerintahan yang dikendalikannya.
12.  Yazid Ibnul Walid 126 H
Masa pemerintahannya penuh dengan kerusuhan-kerusuhan dan pemberontakan yang timbul dimana-mana. Ia meninggal dunia setelah memangku jabatan Khalifah dalam masa beberapa bulan itu.
13.  Ibrahim Ibnul Walid 126 H
Ibrahim merupakan Khalifah yang ke 13 keluarga Bani Umayyah. Tetapi kedudukannya sebagai Khalifah tidak disepakati kaum muslimin. Ia tidak mendapat bai’ah dari segenap lapisan rakyat. Sebab itu sebagian rakyat memanggilnya “Khalifah”, dan yang lain memanggilnya “Amir”. Karena keangkatannya menjadi Khalifah tidak diangkat secara bulat, maka begitu di bai’ah ia harus menghadapi berbagai macam problem. Terutama pemberontakan Marwan ibnu Muhammad.
14.  Marwan Ibnu Muhammad 127-132 H
Marwan menduduki  kursi Khalifah bukanlah berdasarkan bai’ah yang diberikan oleh rakyat kepadanya sebelum itu, tetapi hanyalah semata-mata dengan ketajaman mata pedangnya. Sebab itu ia barulah mendapatkan bai’ah yang sempurna setelah melalui suatu masa yang penuh dengan perjuangan. Setelah mendapat bai’ah, pemberontakan-pemberontakan terhadapnya terus saja berkobar. Pemberontakan-pemberontakan yang dicetuskan oleh golongan Khawarij dan oleh rakyat di Hejaz. Sedangkan golongan Syi’ah juga memperhebat perjuangan mereka di daerah Khurasan.

D.    Masa Kemajuan Dinasti Umayyah
Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif, dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua khulafaur rasyidin terakhir. Hanya dalam jangka waktu 90 tahun, banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan Islam, yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgiztan yang termasuk Soviet Rusia.
Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan berbagai bidang baik politik (tata pemerintahan) maupun sosial kebudayaan. Dalam bidang politik, Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru, untuk memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks. Selain mengangkat Majelis Penasihat sebagai pendamping, khalifah Bani Umayyah dibantu oleh beberapa orang sekretaris untuk membantu pelaksanaan tugas, yang meliputi:
1)      Katib Ar-Rasail, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat-menyurat dengan para pembesar setempat.
2)      Katib Al-Kharraj, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara.
3)      Katib Al-Jundi, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan berbagai hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
4)      Katib Asy-Syurtah, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
5)      Katib Al-Qudat, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.
a.         Dalam bidang sosial budaya, Bani Umayyah telah membuka terjadinya kontak antar bangsa-bangsa muslim (Arab) dengan negeri-negeri taklukan yang terkenal memiliki tradisi yang luhur seperti Persia, Mesir, Eropa, dan sebagainya. Hubungan tersebut lalu melahirkan kreativitas baru yang menajubkan di bidang seni dan ilmu pengetahuan. Di bidang seni, terutama seni bangunan (arsitektur), Bani Umayyah mencatat suatu pencapaian yang gemilang, seperti Dome of the Rock (Qubah Ash-Shakhara) di Yerusalem menjadi monumen terbaik yang hingga kini tak henti-hentinya dikagumi orang. Perhatian terhadap seni sastra juga meningkat di zaman ini, terbukti dengan lahirnya tokoh-tokoh besar sepertiAl-Ahtal, Farazdag, Jurair, dan lain-lain.
b.        Dinasti Umayyah meneruskan tradisi kemajuan dalam berbagai bidang yang telah dilakukan masa kekuasaan sebelumnya, yaitu masa kekuasaan khulafaur rasyidin. Dalam bidang peradaban Dinasti Umayyah telah menemukan jalan yang lebih luas ke arah pengembangan dan perluasan berbagai bidang ilmu pengetahuan, dengan bahasa Arab sebagai media utamanya.

Menurut Jurji Zaidan (George Zaidan) beberapa kemajuan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut:
1.   Pengembangan bahasa Arab
Para penguasa Dinasti Umayyah telah menjadikan Islam sebagai daulah (negara), kemudian dikuatkannya dan dikembangkanlah bahasa Arab dalam wilayah kerajaan Islam. Upaya tersebut dilakukan dengan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam tata usaha negara dan pemerintahan sebagai pembukuan dan surat-menyurat harus menggunakan bahasa Arab, yang sebelumnya menggunakan bahasa Romawi atau bahasa Persia di daerah-daerah bekas jajahan mereka dan di Persia sendiri.
2.   Marbad kota pusat kegiatan ilmu
Dinasti Umayyah juga mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaa. Pusat kegiatan ilmu dan kebudayaan itu dinamakan Marbad, kota satelit dari Damaskus. Di kota Marbad inilah berkumpul para pujangga, filsuf, ulama, penyair, dan cendekiawan lainnya.
3.   Ilmu Qiraat
Ilmu qiraat adalah ilmu seni baca Al Qur’an. Ilmu qiraat merupakan ilmu syariat tertua, yang telah dibina sejak zama Khulafaur rasyidin. Kemudian masa Dinasti Umayyah dikembangluaskan sehingga menjadi cabang ilmu syariat yang sanagt penting.
4.   Ilmu Tafsir
Untuk memahami Al-Qur’an sebagai kitab suci diperlukan interpretasi pemahaman secara komprehensif.
5.   Ilmu Hadis
Ketika kaum muslim telah berusaha memahami Al-Qur’an, ternyata ada satu hal yang juga sangat mereka butuhkan, yaitu ucapan-ucapan Nabi yang disebut hadis. Oleh karena itu timbullah usaha untuk mengumpulkan Hadis, menyelidiki asal usulnya, sehingga akhirnya menjadi satu ilmu yang berdiri sendiri yang dinamakan ilmu hadis.
6.   Ilmu Fiqh
Setelah Islam menjadi daulah, maka para penguasa sangat membutuhkan adanya peraturan-peraturan untuk menjadi pedoman dalam menyelesaikan berbagai masalah. Mereka kembali kepada Al-Qur’an dan hadis dan mengeluarkan syariat dari kedua sumber tersebut untuk mengatur pemerintah dan memimpin rakyat. Al-Qur’an adalah dasar fiqh Islam, dan pada zaman ini ilmu fiqh telah menjadi satu cabang ilmu syariat yang berdiri sendiri.
7.   Ilmu Nahwu
a)      Pada masa Dinasti Umayyah karena wilayahnya berkembang sangat luas, khususnya ke wilayah di luar Arab, maka ilmu nahwu sangat diperlukan. Hal tersebut disebabkan pula bertambahnya orang-orang Ajam yang masuk Islam, sehingga keberadaan bahasa Arab sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, dibukukanlah ilmu nahwu dan berkembanglah satu cabang ilmu yang penting untuk mempelajari berbagai ilmu agama Islam.
b)      Ilmu Jughrafi dan Tarikh
c)      Ilmu jughrafi (ilmu bumi atau geografi) dan ilmu tarikh (ilmu sejarah) lahir pada masa Dinasti Umayyah, barulah berkembang menjadi suatu ilmu yang benar-benar berdiri sendiri pada masa ini.
d)     Usaha penerjemahan
e)      Untuk kepentingan pembinaan dakwah islamiyah, pada masa Dinasti Umayyah dimulai pula penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa-bahasa lain ke dalam bahasa Arab.
Demikianlah berbagai kemajuan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Umayyah yang telah berkembang pesat sebagai embrio perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman Dinasti Abbasiyah.

E.     Faktor-Faktor Penyebab Mundurnya Dinasti Umayyah
Kebesaran yang dibangun oleh Daulah Bani Umayyah ternyata tidak dapat menahan kemunduran dinasti yang berkuasa hampir satu abad ini, hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor  yang kemudian mengantarkan pada titik kehancuran. Diantara fakto-faktor tersebut adalah:
a)        Terjadinya pertentangan keras antara kelompok suku Arab Utara (Irak) yang disebut Mudariyah dan suku Arab Selatan (Suriah) Himyariyah,  pertentangan antara kedua kelompok tersebut mencapai puncaknya pada masa Dinasti Umayyah karena para khalifah cenderung berpihak pada satu etnis kelompok.
b)        Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam non Arab. Mereka yang merupakan pendatang baru dari kalangan bangsa-bangsa yang dikalahkan mendapat sebutan “Mawali”, suatu status yang menggambarakan inferioritas di tengah-tengah keangkuhan orang-orang Arab yang mendapat fasilitas dari penguasa  Umayyah.  Mereka bersama-sama orang Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan diatas rata-rata orang Arab, tetapi harapan mereka untuk mendapatkan tunjangan dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang diberikan kepada Mawali ini jumlahnya jauh lebih kecil dibanding tunjangan yang dibayarkan kepada orang Arab.
c)         Konfllik-konflik politik yang melatar belakangi terbentuknya Daulah Umayyah. Kaum syi`ah dan khawarij terus berkembang menjadi gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan kekuasaan  Umayyah.  Disamping menguatnya kaum Abbasiyah pada masa akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah yang semula tidak berambisi untuk merebut kekuasaan, bahkan dapat menggeser kedudukan Bani  Umayyah dalam memimpin umat.
d)       Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru (bid’ah) bagi tradisi Islam yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
e)         Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Abbas bin Abdul Mutholib.. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.





BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Pusat pemerintahan yang semula berada di Madinah, dipindahkan oleh Mu’awiyah ke Damaskus. Selama masa itu, bani Umayyah dipimpin oleh Khalifah sebagai berikut: Mu’awiyah bin Abi Sufyan (661-680 M), Yazid I (680-683 M), Mu’awiyah II (683-684 M), Marwan bin Hakam (684-685 M), Abdul Malik (685-705 M), Al Walid I (705-715 M), Umar bin Abdul Aziz (711-720 M), Yazid II (720-724 M), Hisyam (724-743 M), Al Walid II (743-744 M), Yazid III (744 M), dan  Marwan II (744-750 M).
Khalifah-khalifah besar pada masa kekuasaan Bani Umayyh adalah: Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abdul Malik bin Marwan, Al Walid bin Abdil Malik, Umar Bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik.
Berakhirnya  kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib mengakibatkan lahirnya kekuasaan yang berpola Dinasti atau kerajaan. Jatuhnya Ali bin Abi Thalib dan naiknya Mu’awiyah juga disebabkan pihak khawarij (kelompok yang membangkan dari Ali) membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib, meskipun kemudian tampuk kekuasaan dipegang oleh putranya Hasan, namun tanpa dukungan yang kuat dan kondisi politik yang kacau akhirnya kepemimpinannya pun hanya bertahan sampai beberapa bulan. Pada akhirnya Hasan menyerahkan kepemimpanannnya kepada Mu’awiyah, namun dengan perjanjian bahwa pemilihan kepemimpinan sesudahnya adalah diserahkan kepada Ummat Islam. Perjanjian tersebut dibuat pada tahun 661 M/ 41 H dan dikenal dengan jama’ah karena perjanjian ini mempersatukan Umat Islam menjadi satu kepemimpinan, namun secara tidak langsung mengubah pola pemerintahan menjadi kerajaan.
Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif, dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua khulafaur rasyidin terakhir. Hanya dalam jangka waktu 90 tahun, banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan Islam, yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgiztan yang termasuk Soviet Rusia.






      
    




















DAFTAR PUSTAKA
A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, Pustaka Al-Husna (Jakarta, 1992), hlm.        24
Ibid, hlm. 26-27.
Al Khuli, Tarikh ad Da’wah, 2/141
Tarikh at Thabari, hlm. 4/78.
Al-Khuli, 2/143.
Futuh al-Buldan, hlm. 411, Tarikh Da’wah: 2/144.
Futuh al-Buldan; 123; Tarikh Da’wah: 2/145.




                [1] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, Pustaka Al-Husna (Jakarta, 1992), hlm. 24.
                [2] Ibid, hlm. 26-27.
                [3] Al Khuli, Tarikh ad Da’wah, 2/141
                [4] Tarikh at Thabari, hlm. 4/78.
                [5] Al-Khuli, 2/143.
                [6] Futuh al-Buldan, hlm. 411, Tarikh Da’wah: 2/144.
                [7]  Futuh al-Buldan; 123; Tarikh Da’wah: 2/145.

Comments